Selasa, 05 Oktober 2010

REINKARNASI MENURUT PAHAM BARAT DAN TIMUR (KAJIAN FILSAFAT PERBANDINGAN)

REINKARNASI MENURUT PAHAM BARAT DAN TIMUR
(KAJIAN FILSAFAT PERBANDINGAN)
By: Lucius Tumanggor, SVD

I. PENGANTAR
Paper ini akan berbicara tentang “reinkarnasi menurut paham Barat dan Timur”. Tema ini lahir saat penulis bersama beberapa teman pernah mengangkat satu tema untuk bahan diskusi dalam tugas kelompok. Tema itu adalah tentang “Kematian” dalam perbandingan Barat dan Timur. Dan tema itu pulalah yang kami angkat dalam presentasi kelompok pada studi perbandingan Barat dan Timur. Dalam masukkannya, ada beberapa dari teman-teman mahasiswa menganjurkan agar tema ini dilanjutkan kembali khususnya untuk membahas persoalan “apa yang terjadi setelah peristiwa kematian manusia”. Bagi penulis, peristiwa itu tidak lain adalah peristiwa “reinkarnasi”. Sebagai jawaban atas itu, penulis mengangkat tema reinkarnasi sebagai bahan kajian dalam tulisan paper ini.
Tema ini (reinkarnasi) akan kelihatan memiliki kelanjutan dari tema “kematian” yang pernah kami angkat dalam kelompok. Dalam paper ini juga akan ditemukan beberapa kesamaan tulisan atau ide dengan tema yang sudah dibahas. Mengapa? Karena tulisan tentang “Kematian” sendiri adalah gagasan, tulisan dan ide pokoknya dari penulis sendiri dan teman kelompok hanya mengikuti proses berpikir dari penulis sendiri. Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan siapa-siapa, namun hanya untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam isi paper ini. Maka hal ini kami sampaikan kepada dosen pembimbing yang terhormat agar dapat memakluminya. Kami sengaja menyampaikan ini semata-mata untuk mengindari adanya kesalahpahaman saja.
Untuk memudahkan pemahaman kita atas materi ini, penulis membuat skema sebagai berikut. Bagian pertama adalah pengantar. Dalam pengantar akan disinggung alasan lahirnya tema ini. Selain alasan, juga dibahas bagaimana skema pemikiran paper ini. Kemudian dalam bagian kedua, penulis menyajikan apa arti terminology reinkarnasi. Setelah memahami dengan baik artinya, pada bagian ketiga, penulis masuk pada bagaimana orang Timur memahami reinkarnasi. Pada bagian keempat, bagaimana orang Barat memahami reinkarnasi serta pada bagian kelima akan dibahas bagaimana kekristenan memandang reinkarnasi itu sendiri. Setelah itu, maka penulis menyimpukannya dalam penutupan paper ini. Inilah rangkaian yang akan menghiasi isi dari paper ini.
II. ARTI REINKARNASI
Istilah reinkarnasi diadopsi dari kata latin “reincarnari” yang artinya “dijelmakan lagi, penjelmaan kembali” atau “kelahiran kembali dalam tubuh”. Kata incarnari dalam bahasa latin berasal dari kata “caro-carnis” yang berarti “daging atau tubuh” . Dalam bahasa Sanskerta reinkarnasi dipahami sebagai jiwa (atman) seseorang setelah kematiannya dilahirkan kembali dalam orang lain (atau binatang) karena karmanya. Atman atau diri manusia dipandang bukan individual, apalagi personal. Dari terminology ini kita bisa memahami bahwa pengertian inkarnasi mengarah pada “kelahiran kembali jiwa atau diri manusia dalam wujud daging atau tubuh manusia, ataupun bisa dalam bentuk binatang atau makhluk lainnya.
III. REINKARNASI DALAM PAHAM TIMUR
Konsep reinkarnasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan kebudayaan Timur. Reinkarnasi telah mempengaruhi kebudayaan masyarakat China-India. Paham reinkarnasi telah tertanam dalam perasaan dan emosi dari orang-orang China. Kepercayaan ini tercermin dalam watak, kebiasaan, cara pandang, serta interaksi mereka dalam hal hubungan, keyakinan, filososfi serta kepercayaan seseorang.
3.1. Reinkarnasi dalam pandangan orang India
Orang India sangat percaya dengan adanya reinkarnasi dalam kehidupan manusia setelah peristiwa kematiannya. Keyakinan ini berasal dari sebuah tradisi yang sudah lama mengakar dalam keyakinan dan budaya mereka, yakni tradisi hinduisme. Dalam hinduisme, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka.
Dalam paham ini orang India meyakini bahwa reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia, bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang lain.
Proses Reinkarnasi Dalam Diri manusia
Samsara.
Samsara adalah seseorang yang setelah kematiannya akan mengalami pengembaraan. Ia akan mengembara dan menuju kepada pengembaraan jiwa dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, dari masa kehidupan yang satu ke masa kehidupan yang lain, dari lahir, hidup, sampai mati. Dapat dibandingkan dengan tunas yang baru tumbuh di atas pohon pada setiap musim semi, meskipun tampaknya pohonnya sudah mati ketika musim dingin. Bagi orang India, baik alam dunia maupun alam manusia mempunyai kecendrungan untuk “mengulang kembali” kehidupan yang sama.
Karma
Alasan mengapa semua benda yang hidup terus-menerus dilahirkan kembali adalah karma, hukum sebab-akibat. Orang Hindu percaya bahwa karma yang menumpuk dalam kehidupan sebelumnya pindah ke masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali. Setiap orang Hindu berusaha menghindari diri dari efek karma pada kelahiran kembali berikutnya dengan melakukan perbuatan amal dan hidup dengan tidak mementingkan sendiri. Bagavad Gita mengajarkan bahwa itulah satu-satunya cara supaya dapat dilahirkan kembali dengan sedikit mungkin karma. Karma yang buruk memastikan bahwa jiwa manusia akan kembali pada kehidupan yang akan datang dengan tingkat yang lebih rendah.
Moksa
Moksa adalah akhir dari samsara –pengembaraan jiwa dan merupakan tujuan setiap orang (Hindu). Spiritualitas Hindu pertama-tama tertuju pada membawa jiwa manusia pada “pantai yang lain”, dengan kata lain, pengajaran untuk dapat menemukan pembebasan dari kelahiran kembali. Untuk menjalankannya orang Hindu merasa perlu untuk menetralisasi karma dengan cara menghindarkan diri dari semua keinginan. Cara ini adalah semacam mendapat emas dari logam yang masih kotor: cara ini membutuhkan banyak usaha, tetapi akhirnya akan mendapatkan emas murni. Pada akhir proses ini jiwa masuk kembali ke dalam alam ilahi –Brahman. Untuk mengerti prose ini, orang Hindu sering menggunakan gambaran bagaikan sungai yang pada akhirnya mengalirkan airnya ke dalam lautan, dan ditelan olehnya. Peristiwa ini hanya bisa terjadi jika jiwa sungguh-sungguh suci dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang terjadi ketika hidup di dunia. Maka itu, jiwa dapat kembali pada bagian dari Brahman –yang darinya jiwa itu berasal.
3.2. Reinkarnasi dalam pandangan orang China
Orang China juga meyakini adanya proses reinkarnasi dalam diri seseorang setelah peristiwa kematian. Kepercayaan ini berasal dari ajaran budhisme yang sudah lama mengakar dalam budaya dan keyakinan hidup orang-orang China. Reinkarnasi dalam Budhisme disebut punabbhava (proses kelahiran kembali). Maksudnya adalah semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus mengalami proses lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesuciannya. Tingkat kesucian ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiaannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.
Proses Reinkarnasi Dalam Diri Manusia
Karma
Dalam tulisannya, Michael Keene mengatakan bahwa karma disebut jumlah perbuatan manusia, mempunyai pengaruh langsung dalam bentuk kehidupan manusia pada masa yang akan datang. Tingkat perbuatan moral menentukan apakah seseorang akan mengalami reinkarnasi atau mencapai nirvana. Umat awam budha berusaha membangun karma yang baik dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang yang diperintahkan. Dengan cara ini, mereka berharap dapat dilahirkan kembali dengan baik.
Nirvana
Lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian yang tanpa akhir disebut samsara, yang artinya “pengembara tiada akhir”. Semua makhluk hidup adalah bagian dari lingkaran ini dan mereka tidak bisa bebas dari lingkaran itu sampai mereka mencapai nirvana. Nirvana adalah “tempat kesejukan –adalah keadaan dimana nafsu yang berkobar-kobar dan keserakahan dipadamkan.
3.3. Hinduisme-Budhisme: Reinkanasi Adalah Lahir Kembali
Bagi orang India dan Cina, kematian bukanlah peristiwa yang menakutkan karena setelah kematian, manusia mengalami reinkarnasi (kelahiran kembali). Reinkarnasi dalam Budhisme disebut punabbhava (proses kelahiran kembali). Maksudnya adalah semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus mengalami proses lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesuciannya.
Dalam budhisme diajarkan bahwa alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiaannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik, maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya, ia akan terlahir di alam yang menderitakan.
Dan dalam paham hinduisme, reinkarnasi pandang sebagai proses kesadaran. Maksudnya,manusia diajar supaya memiliki kesadaran terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Mengapa harus ada reinkarnasi? Reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya.

IV. REINKARNASI DALAM PAHAM BARAT
Kalau kita melihat pemikiran-pemikiran filosofis Barat, hampir tidak ada yang berminat untuk mengkaji paham tentang reinkarnasi. Reinkarnasi sebagaimana dalam pandangan Timur sangat sulit untuk dipahami dalam koridor rasio manusia. Rasio manusia sangat sulit untuk memahami apalagi memastikan apa dan bagaimana peristiwa manusia setelah kematiaannya. Secara filosofis, manusia Barat dipenuhi dengan pesimistis dan keragu-raguan. Reinkarnasi adalah suatu mitos kuno untuk menenangkan hati manusia dalam menghadapi realitas kematian. Sebab bagi mereka kematian adalah sesuatu yang menakutkan.
Dalam refleksinya, orang Barat melihat bahwa kematian itu menyakitkan dan jiwa akan mengalami sengsara dalam fase sesudah mati. Kematian tidak lain adalah pengalaman tragis dan menyedihkan bagi orang yang ada di sekitar. Dalam bukunya tentang “Death and Dying”, Dr. Elisabeth Kubler-Ross mengatakan bahwa gejala yang paling umum dialami oleh manusia yaitu rasa takut. Hal ini diperoleh lewat penelitiannya saat wawancara dengan para pasien di rumah sakit. Dia mengatakan bahwa pada umumnya pasien menolak dan menyangkal, tidak percaya bahwa hal ini mesti terjadi atas diri mereka. Bukan dirinya tapi orang lain yang harus mati. Orang Barat sangat sulit untuk mempercayai adanya kehidupan setelah mati. Mereka beranggapan bahwa kehidupan setelah mati adalah ketidakmungkinan. Kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati secara metafisik tidak mungkin, tidak memiliki dasar empiris. Hal ini sangat menakutkan oleh karena ketidakjelasan setelah peristiwa kematian.
Dalam karyanya tentang Sein und zeit (“ada dan waktu”), Heideger pernah mengatakan bahwa manusia “terdampar/ terlempar” di dunia ini ke arah maut sedemikian, sehingga keberadaan (eksistensi) manusia itu sama dengan “ ada ke arah maut”. Heideger melihat bahwa gejala maut itu hadir dalam kesuluruhan hidup manusia ( dalam inti “ada”) itu. Bagaimana Heideger sampai pada pengertian di atas? Heideger memahami bahwa keseluruhan manusia itu menampakkan diri dalam pengalaman yang disebut khawatir. Kekawatiran tampak dalam kenyataan bahwa manusia selalu dibayangi oleh kemungkinan akan ketidakberdayaan akan maut.
Berhadapan dengan kematian, manusia pun merasakan ketakutan dan kekawatiran. Ketakutan akan apa? Yakni, ketakutan akan maut. Ketakutan akan maut, bagi Heideger, tidak lain adalah kekawatiran manusia itu sendiri akan kematian. Maut itu adalah kematian yang mengancam kehidupan manusia. Kematian menjadi Kekhawatiran setiap orang. Mengapa? karena dengan ancaman kematian tersebut, “adanya” (Dasein) manusia tidak membuka kemungkinan-kemungkinan lagi, manusia tidak dapat merencanakan lagi, manusia habis, tiada (menjadi tidak ada lagi). Heideger menyimpulkan bahwa akibat dari kelahiran adalah kematian. Sejak kelahiran manusia, kematian sudah menunggunya. Sekali mati tetap mati tidak ada masa depan lagi.
V. REINKARNASI DALAM KEKRISTENAN
Reinkarnasi berarti bahwa jiwa (atman dalam bahasa sanskerta) seseorang setelah kematiannya dilahirkan kembali dalam orang lain (atau binatang) karena karmanya. Atma atau diri manusia dipandang bukan individual, apalagi personal. Pandangan reinkarnasi (samsara) yang terdapat dalam beberapa agama dalam kepercayaan ditolak tegas oleh agama Kristen. Sebab, manusia tidak mungkin menebus dirinya, walaupun mengusahakannya dengan beberapa kali dilahirkan.
Reinkarnasi ini bertentangan dengan ajaran Kristen mengenai martabat –pribadi setiap orang tentang personalitas serta tanggung jawab dan mengenai –pengadilan setiap orang setelah kematiaannya sesuai iman dan perbuatannya. Kelahiran dalam manusia lain tiada hubungan dengan kelahiran kembali manusia sebagai Anak Allah dalam pembaptisan. Reinkarnasi bukan jalan untuk –akhirnya –akhirnya –menjadi baik, karena bukan kitalah yang menciptakan keselamatan abadi, melainkan Allahlah yang menganugerahkannya kepada orang beriman.

VI. PENUTUP
Reinkarnasi dalam pemahaman orang India dan Budha bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas kehidupannya. Untuk apa? Hanya untuk boleh menikmati kebahagiaan yang tertinggi (Brahman-nirvana).
Namun, adakah hal ini menjadi inspirasi orang Barat? Tidaklah demikian. Orang Barat melihat hal ini hanya semata-mata mitos kuno yang yang sama sekali tidak dapat dibuktikan lewat ratio manusia. Peristiwa sesudah kematian adalah peristiwa menakutkan dan menggelisahkan. Sebab manusia tidak memiliki pengalaman akan hal itu.
Namun, ketika manusia mengalami ketidakjelasan dan ketakutan akan peristiwa setelah kematian, Kekristen meyakini dan menjamin adanya keselamatan jiwa lewat kepercayaan Pada Allah dalam diri Yesus Kristus sebagai Sang Juru selamat. Manusia tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuan Tuhan yang menjadi Pengantara manusia. Bila manusia ingin hidup dan lahir secara baru, maka ia harus lebih dahulu percaya percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus, dan hidup sesuai dengan nasehat-nasehat injil-Nya.